Peran Kader dalam Penerapan Pijit Oksitosin dan Edukasi Makanan Pelancar ASI sebagai Upaya Pencegahan Stunting
DOI:
https://doi.org/10.35334/neotyce.v6i1.512Keywords:
Edukasi, stunting, ASI ekslusif, pijat oksitoksin, ibu menyusuiAbstract
Stunting adalah salah satu masalah gizi yang berdampak buruk terhadap kualitas hidup anak dalam mencapai titik tumbuh kembang yang optimal sesuai potensi genetiknya. Stunting berhubungan dengan risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang Bayi, ASI dapat membentuk imun bayi sehingga bayi tidak gampang sakit. ASI Eksklusif merupakan makanan pertama, utama dan yang paling baik bagi bayi. Capaian pemberian ASI eksklusif masih jauh dari target. Salah satu penyebab masih rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif yaitu karena faktor produksi ASI yang masih sedikit pada hari-hari pertama pasca persalinan dan ibu merasa ASI nya tidak cukup. Kelancaran ASI akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam menyusui. Kelancaran ASI dapat menurun pada beberapa hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan karena kurangnya rangsangan hormon prolaktin dan oksitosin. Salah satu tindakan yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas ASI, yaitu pijat oksitosin. Berdasarkan penelitian menyatakan ada pengaruh yang signifikan pijat postpartum terhadap kecapatan pengeluaran ASI. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang makanan pelancar ASI dan memberikan keterampilan pijit oksitosin dalam upaya pencegahan stunting. Target yang diharapkan pada kegiatan ini adalah bertambahnya pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat memberikan edukasi makanan pelancar ASI dan melakukan pijit oksitosin pada ibu menyusui sebagai upaya untuk memperlancar produksi ASI sehingga tercapai ASI Ekslusif dan dapat mencegah terjadinya stunting. Hasil dari kegiatan ini yaitu terjadi peningkatan pengetahuan kader sebelum dan setelah dilakukan edukasi dan pelatihan pijit oksitosin dalam upaya pencegahan stunting. Sehingga Edukasi dan pelatihan melalui teknik demontrasi dinilai efektif terhadap peningkatan pengetahuan kader dalam melakukan pijit oksitosin.




