MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM RUMAH ADAT SUKU DAYAK LUNDAYEH DI DESA PULAU SAPI KECAMATAN MENTARANG KABUPATEN MALINAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

Authors

  • May Susi Universitas Borneo Tarakan Author
  • Siti Fathonah Universitas Borneo Tarakan Author
  • Erna Wahyuni Universitas Borneo Tarakan Author

Keywords:

Makna, Rumah Adat, Dayak Lundayeh, Semiotika

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna yang Terkandung dalam  Adat Suku Dayak Lundayeh di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten  Malinau (Kajian Semiotika). Penelitian kualitatif ini dengan subjek pada penelitian  ini diperoleh dari masyarakat suku Dayak Lundayeh ini dengan. Adapun teknik  pengumpulan data yaitu teknik observasi, wawancara, dokumentasi, mencatat.  Teknik analisis data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dicatat  dan di dokumentasi, kemudian mendeskripsikan makna yang terdapat di dalam  rumah adat suku Dayak Lundayeh, dan membuat kesimpulan dari data yang sudah  dikumpulkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari keseluruhan data yang  terkumpul pada penelitian ini yaitu sebanyak 25, data penelitian terdiri atas 1 data  yang berupa ukiran, 2 data berupa pahatan, 10 data berupa benda, 6 data berupa  warna, 6 data arsitektur. Dari hasil makna secara semiotika dengan menggunakan  teori segitiga makna, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat data yang  berada di dalam rumah adat suku Dayak Lundayeh tersebut memiliki makna yang  berbeda-beda. Arit linawa memiliki makna melambangkan kekuatan seseorang  dengan lun do dari suku Dayak. Buaye tana, Diri ulung memiliki makna  melambangkan sifat sangat keras, keberanian dan ketangguhan serta rasa persatuan  masyarakat suku Dayak Lundayeh. Gong, Keratung, Sape, Felefet, Efut, Busu dan  warna merah memiliki makna dapat memanggil roh nenek moyang yang memiliki  kekuatan. Rong, Bakad telun decur, Tekip telun decur, Bakad telun delai memiliki  makna status sosial masyarakat. Warna kuning, biru, putih, hitam, hijau memiliki  makna religius sebagai tanda terima kasih masyarakat suku Dayak Lundayeh  kepada tuhan telah memberikan mereka kehidupan serta alam yang berperan  menjadi sumber kehidupan mereka. Atap, diri, jendela, buduk, lantai, bawa kolong  Arsitektur yang memiliki makna memberikan perlindungan setiap masyarakat  memasuki rumah adat suku Dayak Lundayeh.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Afrita, Y. (2021). Tradisi Adat Perkawinan Komering Sibambangan Dalam Nakat Desa Betung Kabupaten Oku Timur Sumatra Selatan: Kajian Nilai Moral. Mlangun: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan, 18(2), 183- 192.

Agus, M. (2022). Analisis Mantra Pengobatan Masyarakat Melayu Desa Karimunting Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang (Pendekatan Semiotik) (Doctoral Dissertation, Ikip Pgri Pontianak).

Adetia, A. (2023). Struktur, Fungsi, dan Makna Mantra Penjaga Diri Masyarakat Melayu Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas. Kota Singkawang (Kajian Lisan)

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif da R&D.

Sulistyorini, D., & Andalas, E. F. (2017). Sastra lisan: Kajian teori dan penerapannya dalam penelitian. Madani.

Downloads

Published

2025-10-31

Issue

Section

Articles